“CERPEN” ANAK PALING MENGIKUTI NASEHAT ORANG TUANYA

Foto Agusta Togodi, S. Sos saat wisuda di Universitas Kutai Kartanegara di Samarinda di kota tenggarong


“CERPEN” 
ANAK PALING MENGIKUTI NASEHAT ORANG TUANYA

Seorang perempuan yang bernama agusta togodi, asal papua ia terlahir dari keluarga sederhana di kampung akorek 11 mei 1993, ia memiliki 4 bersaudara, aguta anak ke 4 dari 4 bersaudara , agusta menghuni di kabupaten wamena kampung akorek yang terletak diatas bukit dengan ketinggian 500 dari permukaan laut.

2000 yang lalu agusta masih tertutup dengan kehidupan moderen, tidak ada alat penerang selain tungku api dan coneksi internet. Saat itu, kampung akorek dihuni oleh penduduk yang kaya raya makan dan minum dari alam yang masih belum kena sentuan otoriter negara, tidak ada kematian diusia muda karena lapar, wabah dan kolera, penduduk asli hidup dalam budaya yang kental.

Sejak itu ayah dan ibunya agusta berusia 30 tahun, ia menasehati anaknya untuk bersekolah, walaupun biyaya sekolahnya mahal,
kata ayahnya dengan suara lembutnya, “anak kamu harus sekolah untuk membangun kampung akorek”

jawab agusta dengan senyuman manisnya,
“ayah saya mau sekolah tapi ayah sangup biyayai sekolah saya?”,

Lalu Jawab ayahnya dengan muka serius, “saya sangup membiyayi sekolah sampai kamu mendapatkan gelar sarjana S1, Karena ayahnya menyadari bahwa 20 tahun kemuduan akan perubahan secara spontan di kampung akorek”, sehingga agusta pun menuruti nasehat orang tuanya untuk Sekolah Dasar (SD) YPPK PILIMO.

agusta mulai berpendidikan di Sekolah Dasar (SD) YPPK PILIMO, dengan berpakean gado gado bahkan tidak memakai pengalas kaki seperti sepatu, sendal dll. karena di zama itu belum tersentu alat-alat moderen tetapi agusta tetap semangat sekolah duduk di ruangan kelas bersama teman-temannya, namun saat itu agusta dan teman-temannya belum pandai berbahasa indonesia sehingga agusta berintoraksi memakai bahasa ibu bersama teman-temannya,
kata agusta dengan bahasa ibunya, “noreluk kar kendage tah”?,

Jawab temannya dengan ketawa heheheh, “an nendage harlin”,

sejak berintoraksi berlangsung kamudia guru bahasa indonesia masuk ruangan kelas memberikan hukuman kepada agusta dan lesina, kata gurunya, “saya akan memberikan satu pertanyaan, apa cita-cita kalian”,?
dengan pedenya agusta menjawab, “saya ingin menjadi DPRD”, kemudia gurunya sangat senang karena agusta memiliki cita-cita yang elok.
Selama 6 tahun agusta salah satu siswa yang rajin dan pandai, ia selalu mendapat renkin 3 hingga ia lulus Sekolah Dasar (SD) YPPK PILIMO.

Setelah lulus (SD) YPPK PILIMO, agusta mempunya keinginan untuk melajuti sekolah SMP tetapi ia melihat ayahnya yang sakit terbaring di atas tempat tidur, tidak bisah melakukan apa-apa sehingga agusta memilih untuk merawat dan menjaga orang tuanya, tetapi ayahnya menyembunyikan semua kesakitan itu dan menasihati agusta dengan senyuman terpesonanya ” na kamu harus melanjutkan seloah SMP, SMA dan perguruan tinggi mu agar hidup mu jau lebih baik dari sekarang.
Na ingat jangan sekali pun mengingat ayah karena ayah selalu berada disampin mu untuk menyupot mu hingga kamu sukses”.

Setelah nasehat dari ayahnya selesai lalu beberapa jam kemudia ayahnya meninggal di waktu agusta masih kecil lalu agusta melihat ayah yang ia cintai telah meninggalkan agusta untuk selama-lamanya
sehingga agusta prustasi melihat keyadaan saat itu, agusta memilih untuk tidak melanjutkan perguruan tinggi tetapi ia memilih untuk membantu ibunya menjaga dusun yang ia cinta namun ibunya duduk di samping agusta kemudia memeluknya dengan penuh kasih sayang, sambil meluncurkan air mata dan berkat, “na inggat nasehat ayah mu sebelum ayah mu pergi, jangan prustasi tetapi lanjutkan sekolah mu karena ada ibu mu yang akan berjuang keras untuk membiyayai mu sampai kamu mendapatkan gelar sarjana S1.
Na inggat ibu tidak akan meninggalkan mu sebelum kamu sukses”.

Setelah mendengarkan nasehat dari ibunya, lalu agusta menjawab dengan nada yang lembut, ” iya,,,,,, ibu” Kemudia agusta melanjutkan Sekolah Menengah Pertama (SMP) NEGERI YALENGGA , ia mengalami tantangan dan cobaan yang sulit karena ia harus bangun jam 05 pagi untuk berjalan kaki ke sekolah hingga tibah di sekolah jam 07:00 WIB, kemudian pulang sekolah jam 13:00 WIB, ia kembali berjalan kaki ke rumahnya hingga tibah di rumah jam 16:00 sore, selama tiga tahun ia melakukan hal ini setiap hari hingga lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP) NEGERI YALENGGA.

Namun semangatnya tak hilang, ia harus melanjutkan Sekolah Menengah Atas (SMA) KRISTEN WAMENA, kemudia ia mengalami kesulitan karena jarak rumah dengan sekolahnya sangat jauh, ia harus mempersiapkan peralatan sekolahnya di malam hari, seperti pensil, bolpen, buku dan tas (Noken) bahkan membakar ubi di tunggu api sebagai bekal karena ia menyadari bahwa perjalanan sangat jauh, ia harus bangun pagi-pagi jam 04 subuh sebelum ibunya bangun, ia sudah bangun terlebih dahulu untuk berjalan kaki kesekolah walaupun awan masih gelap, embun mengelilingi samudera raya dan dingin wamena memeluk tubuhnya namun itu tidak menjadi penghalang, ia tetap berjalan kaki hingga tiba di sekolahnya jam 07:00 WIB sampai jam 13:00 WIB, ia harus berjalan kaki pulang kembali ke rumahnya hingga tiba jam 17:00 sore, ia melakukan hal ini selama 3 tahun, kemudian ia lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) NEGERI WAMENA.

kemudian agusta ingin melanjutkan perguruan tinggi di Universitas Kutai Kartanegara di Samarinda di kota tenggarong namun ia melihat ibunya sudah semakin tua, usianya mencapai 52 tuhan sehingga agusta meneteskan ari mata dan memilih untuk membantu orang tuanya di kampung halaman, tetapi ibunya menyembunyikan semua derita dan kesakitannya, lalu ibunya kembali menasehati agusta dengan senyuman yang manis,
kata ibunya dengan senyuman manisnya, “anak kamu harus melanjutkan perguruan tinggi”,

Jawab agusta sambil memeluk ibunya, “ibu saya tidak sanggup meninggalkan ibu
sendirian di kampung halaman karena ibu sudah tua, tidak ada yang bisah membantu ibu”,

Kata ibunya dengan senuman manis, “anak ibu masih kuat, ibu masih mampu membiayai kuliah mu, kamu harus kelar sarijana S1 dan kembali membangun kampung halaman mu”.

Kemudia agusta mengikuti perkataan ibunya, ia harus melanjutkan perguruan tinggi di Universitas Kutai Kartanegara di Samarinda di kota tenggarong , beberapa hari kudian ia berangkat dari wamena ke Kalimantan Timur Samarinda , ia di sambut oleh keluarganya yang sudah lama merantau di Samarinda.

4 hari kemudia agusta harus ke kempus untuk mendaftarkan dirinya di Universitas Kutai Kartanegara. Satu minggu kemudian ia harus mengikuti OSPEK kampus untuk menunjukkan bahwa ia adalah mahasiswa murni Universitas Kutai Kartanegara.
Kemudian agusta mulai mengikuti proses perkuliahannya di Fakultas Ilmu Soaial Dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Administrasi Negara, selama ia menempuh ilmu ia mengalami kesulita yang sangat berat karena setiap hari, satu mata kuliah ada tugas sehingga ia tidak mampu untuk print dan foto copy materi namun itu tidak menjadi penghalang, ia tetap semangat mengerjakan tugas-tugasnya melalui tulis tangan.

Agusta salah satu mahasiswa yang rama, rajin dan pandai, ia selalu membantau teman-temannya di dalam ruangan, memberikan jawaban dan membantu mengerjakan tugas-tugas namun teman-temannya tidak mengetahui penderitaan agusta, ia harus menulis tangan mengerjakan tugas bahkan ia selalu berjalan kaki dari rumah ke kampus. Triknya matahari samarinda membakar tubuhnya tetapi ia tetap semangat berlimpah dengan untuk merai impiannya, selama 4 tahun ia melakukan hal itu setiap hari hingga ia sukses melewati itu semua dan tibahnya agusta mulai mempersiapkan acara wisudahnya, dan agusta berharap di hari kebahagiaannya orang terdekat bahkan orang tersayang yaitu ibunya harus hadir di hari spesialnya namun harapannya tidak terwujud karena ibunya sakit para tidak bisah mengikuti hari kebahagiaan agusta

Kemudian agusta mulai gelisah karena ibunya yang ia cinta sakit berat sampai tidak bisah bicara, lalu agusta mengambil keputusan untuk harus tinggalkan semua rencana wisudanya lalu pulang kekampung halaman untuk merawat ibunya karena agusta menggangap bahwa ibu adalah segalahnya dari semua yang ia peroleh, namun ibunya menyembunyikan semua kesakitannya lalu kembali menasehati dengan senyuman manisnya memalui telfon seluler “anak ingat nasehat bapak mu dan ibu mu, kami hanya menginginkan kamu sukses mendapatkan gelar sarijana S1, sebelum kemu sukses, ibu tidak akan meninggalkan mu sendiri tetapi ibu selalu bersama mu, ayo na kembali ke rumah mu dan lakukan acara wisuda mu tampa ibu” lalu agusta pun mendengarkan nasehat ibunya lalu agutas
sukses mendapatkan gelar sarijana S1.

Kemudian 2021 aguta kembali ke kampun halama bertemu ibunya, ibunya melihat agusta pulang membawa gelar sarjana S1, ibunya sangat bahagia dan memeluk agusta sambil berkata, “anak kamu lihat di kampung halaman mu sudah berubah secara spontan, alat-alat moderen sudah tersebar di seluruh penjuru akorek sehingga 10 tahun kemudian anak ku agusta yang akan menjadi pemimpin di akorek, ibu pesan ketiga ibu meninggal, kuburkanlah saya di tanah ini, dan semua kekayaan alam yang ada di akorek boleh kau ambil dan kau kelola lalu menikmati hasilnya tetapi ingat jangan pernah jual tanah karena semua kekayaan alam akan hilang dan kau akan mati kelaparan diatas dusun mu sendiri”.

_Coretan yang tidak bagus, kosa kata yang sederhana semoga saja bisah bermakna bagi yang setia membaca coretan 🙏

Mohon di maklumi jika ada tutur kata yang salah karena baru melangkah dari 0 🙏_

Posting Komentar

0 Komentar