Tidak Dikategorikan 3 Minutes

Yosafat sani, foto di markas GMKI, saat menyampaikan sambutan
Salah satu teman saya generasi papua yang bernama yosafat sani asal papua kabupaten intan jaya, ia di lahirkan di kampung mamba 30 Juli 1997, ia terlahir dari keluarga sederhana, ia memiliki 5 bersaudara, yosafat anak ke 3 dari 5 bersaudara. Di masa kanak-kanak yosafat memiliki impian menjadi seorang pemimpin nomor 1 di papua sehingga yosafat memiliki niat untuk berpendidikan disekolah dasar (SD) inpres mamba , selamat 6 tahun ia berpendidikan, yosafat mengalami tantangan yang begitu berat, selama ia sekolah, yosafat harus menimbun perjalanan dari rumah ke sekolah dengan jarak 10K, itu pun harus melewati gunung dan sungai, ia berjalan kaki selama 1 jam hingga tibah di sekolahnya jam 7:00 WIB sampai pulang jam 13:00 WIB, setelah pulang sekolah ia pun harus berjalan kaki pulang kerumahnya selama 1 jam hingga tibah di rumah jam 14-10 menit, selama 6 tahun yosafat melakukan hal ini setiap hari hingga ia lulus dari (SD) inpres mamba.
Semangatnya semakin bertambah, akhirnya Yosafat melanjutkan sekolah menegah pertama (SMP) negeri 1 sugapa, selamat 3 tahun ia memiliki tantangan yang lebih berat lagi, sebelum ia pergi kesekolah yosafat harus mempersiapkan peralatannya di malam hari, ia harus mempersiapkan pensil, bolpen buku dan tas (Noken) selain itu ia harus membakar ubi, buat bekalnya karena ia tau bahwa perjalanan sangat jau, ia harus bangun jam 4 pagi sebelum orang tuanya bangun yosafat sudah bangun terlebih dahulu, awan masih gelap, empun masih menutup jalan, dingin mengelilingi intan jaya namun ia harus berjalan kaki dari rumah menuju sekolah selam 3 jam di jalan perjalanan hingga tiba disekolah jam 7:00 WIB sampai pulang sekolah jam 13:00 WIB iya pun harus berjalan kaki kerumahnya selam 3 jam hingga tiba di rumah jam 4 sore, selama 3 tahun yosafat melakukan hal ini setiap hari hingga lulus sekolah SMP negeri 1 sugapa.
Keinginan yosafat pun semakin bertambah karena ia akan melanjutkan Sekolah Menengah Atas (SMA), kali ini yosafat memiliki semangat duakali lipat karena ia akan melanjutkan SMA di kota nabire.
Atas persetujuannya kedua orang tua sehingga yosafat pun harus berangkat dari intan jaya ke kota nabire, ia berdomisili di nabire dan melanjutkan sekolah SMK negeri 1 nabire, ketiga ia melihat jarak rumahnya dengan sekolah tidak terlalu jau sehingga yosafat merasa senang, dulunya ia harus berjalan kaki 3-4 jam kini ia hanya berjalan kaki 2 menit saja sudah sampai di sekolahnya.
Melihat dengan sikon ini yosafat pun semakin bertambah semangat untuk merai prestasinya, tak ada satu orang pun yang bisa menghentikannya, sehingga ia pun terlibat didalam organisasi sekolah, yosafat menjabat sebagai ketua OSIS SMK negeri 1 nabire dan ia pun mengikuti organisasi di luar sekolah, ia menjabat sebagai guru sekolah minggu /(kaka pengasu) di gereja GKII nabire.
Selama 3 tahun ia berpendidikan di SMK negeri 1 nabir ia mendapatkan prestasi yang luar biasa, ia mendapatkan nila diatas rata-rata sehingga yosafat mendapatkan biasiwa dari kabupaten intan jaya untuk melanjutkan perguruan tingginya di Universitas Negeri Palangka Raya (UNPR).
Ketiga Yosafat mendengar berita bahwa ia mendapatkan biasiwa untuk melanjutkan perguruan tinggi di Universitas Negeri Palangka Raya (UNPR) namun Yosafat ketakutan karena ia merasa bahwa sangat jau dari kampung halamannya, tetapi Yosafat teringat kembali waktu ia masih kanak-kanak, ia memiliki impian untuk menjadi seorang pemimpin nomor 1 di papua, sehingga itu kembali menggungkit semangat berlimpa ganda karena ia harus merai impiannya.
Kemudia Ia memberanikan dirinya untuk melanjutkan perguruan tingginya di luar kota.
Sehingga beberapa hari kemudian ia harus berangkat dari nabire menuju kota Palangka Raya, ketiga yosafat tibah di kota Palangka Raya, ia disambut oleh kaka-kaka mahasiswa yang sudah terlebih dahulu di kota Palangka Raya.
4 hari kemudian, ia harus memperkenalkan dirinya dengn Rektorat Universitas Negeri Palangka Raya (UNPR) dan jajarannya, beberapa minggu kemudian ia harus mengikuti OSPEK kampus untuk menjadi mahasiswa murni di Universitas Negeri Palangka Raya. Akhirnya semua sudah terlaksana. Bahkan Ia pun mulai melanjutkan proses perkuliahannya di Fakultas Fisip Jurusan ilmu Pemerintahan, yosafat sangat bangga dan senang sekali bisah bersaing dengan teman-teman di dunia pendidikan, di tanah borneo.
Yosafat pun pernah mengikuti beberapa organisasi di kampus maupun di luar kampus seperti GMKI, HIMAPA Kalteng bahkan ia pun pernah menjabat sabagai ketua Himpuna Mahasiswa Papua (HIMAPA) di Kalimantan Tengah Palangka Raya masa periode 2018-2019 dan telah terbukti di masa periodenya banyak terobosan-trobosan baru yang ia lakukan untuk Himpunan Mahasiswa Papua di Palangka Raya.
Ia pun jadi panutan Himpunan Mahasiswa Papua (HIMAPA), nama yosafat sani tidak asing lagi di kota Palangka Raya,bahkan saat ini pun ia dikenal banyak orang.
Nah 3 bulan kemudian yosafat bersama temana-temannya berdiskusi dengan topik “REVOLUSI PAPUA“, lalu berjalannya diskusi, ada salah satu temannya yang bernama Alexander Yibibalom bertanya kepada yosafat, “eh teman saat ini papua ingin perubahan, papua ingin pemimpin-pemimpin baru, jadi teman cita-cita jadi apa? Yosaffat dengan pedenya menjawab, “saya ingin jadi Bupati dan saya ingin merubah papua”.
Akhirnya sampai saat ini, Kaka2, teman2 bakan ade2nya di Palangka Raya mengubah nama yosafat menjadi Bupati, sehingga saat ini ia dipanggil Bupati di kalangan mahasiswa papua di Palangka Raya.
Impian dan cita-cita mu adalah doa.
Kata-kata mu adalah doa.
Ucapan semua teman-teman mu adalah doa
Doa kami selalu menyertai mu, semoga saja doa ini dikabulkan oleh Allah Semesta Alam Amin.
Maaf tidak bisah melampirkan foto-fotonya karena dimasa itu ia tak memiliki kamera untuk berfoto hehehehe.
Coretan yang tidak begitu bagus ini semoga saja perjalanan hidup ini bisah bermakna bagi yang setia membaca coretan
Lanny Jaya 20 Mei 2020 / 21:25 WIB
0 Komentar