CERPEN KEPALA SUKU DANI DAN ANAKNYA DI KAMPUNG TIOM




Ilustrasi Di Ambil Dari Google, Foto Kepala Suku Tiom Berserta Anaknya 


        Hallo gays kembali lagi bersama saya, kali ini kita akan mengules cerita rakyat dari Indonesia timur.

kampung tiom yang terletak di atas bukit dengan ketinggian 500 meter dari permukaan laut, saat itu di era 2000an tahun yang lalu kampung tiom belum ada alat penerangan selain tungku api bahkan belum ada sentuan otoritas negara.
Masyarakat di kampung tiom hidup dengan kekayaan alam yang berlimpa susu dan madu bahkan masyarakatnya hidup harmonis dalam kekeluargaan, kampung kecil yang dihuni sekitar 17 kepala keluarga (KK ). Honai yang di huni 3 keluarga, Kepala suku, istri dan anaknya yang bernama olgha mereka memiliki rumah honai beratap onger/alang-alang, datang pagi dingin mengelilin samudra raya, tungku api sebagai penghangat tubuh, tibah malam gelap gulita mengelilingi samudra raya, tungku api sebagai alat penerangan.
Kerjaan tiap harinya berkebun dan berburu, kepala suku dan anaknya olgha pergi berburu kuskus sebagai lauk sedangkan ibunya pergi ke tempat perkebungan untuk memotong sayur sebagai makanan siang.
Beberapa tahun kemudian datanglah dua orang berkulit puti yang bernama Alfa dan Bonny, mereka inggin menghuni dikampung tiom lalu disambut oleh kepala suku.
Alfa dan bonny sangat akrap dengan kepala suku karena kepala suku menerima mereka untuk tinggal bersama2.
Sudah 6 bulan lamanya alfa dan bonny hidup di kampung tiom kemudian pada satu hari alfa mencari kepala suku ke rumahnya karena selama 3 hari alfa belum berjumpa sama kepala suku, sejak tibah dekat rumahny, ia berjalan sambil teriak “kepala suku, kepala suku dimana kamu, saya sudah kangen selam 3 hari tidak berjumpa”, kemudian jawab istri kepala suku dengn kawatir “alfa, kepala suku dan olgha pergi berburu kehutan tapi belum pulang kerumah selama 3 hari, padahal mereka biasa pulang cepat tapi kali ini lama sekali”, jawab alfa, “iya ibu saya akan mencari mereka di hutang”, jawab ibu, “iya alfa hati2 di jalan”, lalu alfa dengan cepat-cepat pergi kerumah ambil alat-alat berburunya kemudian ia mengikuti jejak-jejak kaki kepala suku dan anaknya olgha sampai de tenga hutang alfa belum bertemu mereka selama 1 minggu lalu ia sudah lelah sehingga ia beristirahat di tengah hutang, 10 menit kemudian ada seekor binatan buas yang penuh dengan darah lari ke arah selatan sehingga alfa berdiri dan mengecar binatan buasa itu ke ara selatan, terlihatlah kepala suku yang berbaring tak berdaya lalu alfa dengan cepat-cepat menghampiri dan memeluknya sambil berkata, “apa yang terjadi?, kenapa sampai bisah begini dan dimana olgha”? Kemudian kata kepala suku dengan napas terakirnya, “teman mu bonny yang menembak saya sehingga olgha lari ke ara timur lalu kepala suku menutup mata”,
alfa dengan amaranya kejar olgha ke arah timur namun olgha sudah lari dengan jongsong kecil yang ada di pingiran sungai tanda peningalan bapanya.
2 hari kemudia olgha terdampar di pingir sungai baliem lalu datanglah seorang putri yang bernama anjeli membawanya kerumah dan mengobati olgha hingga ia sembuh, lalu wanita itu menanyakan kepada olgha, “kenapa sampai kamu bisah terdampar di pingiran sungan baliem” lalu olgha menceritakan semua kejadian yang terjadi saat itu, lalu wanita itu pun mengaku bahwa ia adalah anak kepala suku hubula, lalu beberapa tahun kemudian mereka menika dan memiliki anak 5 bahkan olgha pun menganti bapaknya anjeli menjadi kepala suku hubula, dengan waktunya berjalan olgha inggin berkunjung keluarga ke kampung halamnya namun olgha teringat kembali pada saat ayahnya di tembak, ayahnya pesan kepada anaknya olgha, olgha kamu harus tinggalkan tempat ini dan jangan perna kembali lagi ke tempat ini, kamu harus hidup disana dan beranak cucilah dan penuhi bumi ini, sehingga olgha memili tetap tinggal di hubula yang sekarang wamena.
Cerita ini bukan kisah nyata namun hanyalah karangan, diambil dari berbagai cerita populer yang ada di lapago
Coretan yang tidak bermakna ini semoga saja bisah menjadi bekal pengetahuan bagi yang setia membacanya
Mohon dimaklumi jika ada kata yang salah karena baru mulai dari 0%√

sampai jumpa di cerita berikutnya 

Palangka Raya 3 September 2020. 

Posting Komentar

0 Komentar