AKU KIRA BAYONET ITU BONEKA.





Pendataan Sedang Berlangsung di West Papua, Ilustrasi, Gambar ini di Ambil  dari Facebook 

 

Suamiku di Tembak, Lengso Biru Jadi Saksi

Bayang-bayang di balik sensus.


Saya mau terus terang kepada masyarakat Papua, di antara kita semua siapa yang selalu bermain data di lapangan.

Berapa kali Anda naikkan data dari warga, penempatan penulisan data itu sudah benar. Jumlah data penduduk di seluruh Indonesia berapa, dan di Papua berapa jumlah penduduk.

Ingat, ada struktur pemerintahan, pusat, pemerintah, kota/kabupaten, distrik, kelurahan/kampung, dan RW/RT. Sudah ada jalur ini, mengapa tidak mengambil melalui jalur ini.

Ini sama dengan pendekatan Pepera, di mana rakyat  dipaksa mengikuti kemauan pemerintah.

Sekarang pendekatan juga sama, hanya metodenya berbeda. Seorang ibu dalam cerita, begini ceritanya;

Cerita mama di para-para pinang.

Pendata

"selamat pagi, kami dari pendataan sensus penduduk. Kami data warga untuk terdaftar, supaya identitasnya jelas sebagai warga negara.

Agar warga bisa mendapatkan kemudahan-kemudahan bantuan dari pemerintah, kalau kamu tidak terdaftar kamu dapat apa?.

Makanya kamu harus terdaftar, supaya kamu bisa menikmati; Supermi satu bungkus, rokok satu batang, gula-gula permen karet, nasi bungkus, dan pakaian bekas, pakaian dalam wanita.

Iyo...to mama sayang".

Seorang ibu;

"benarkah anak, kami akan dapat semua yang Anak bilang itu ka". Tanya mama.

Pendata;

"benar mama, mama jangan dengarkan anak-anak mama yang selama ini menolak pendataan sensus penduduk. Mereka mau kasih apa Sama mama, mereka itu orang-orang stres".

Seorang ibu;

"tapi, anak-anak saya tidak gila, mereka waras. Mereka selalu mencukupi kebutuhan di dalam keluarga ini".


Pendata;

"tapi, menurut kami, mereka yang menolak itu orang gila. Itu yang disebut anak-anak stres".


Seorang ibu;

"oke anak, saya akan isi pendataan sensus penduduk ini. Tapi, mana mau kasih tau satu permintaan. Bisa ka? Anak-anak"!.


Pendata;

"bisa mama, mama minta apa saja, kami akan kasih".


Seorang ibu;

"tapi anak-anak. Mama bisa minta saat ini juga ka"?.


Pendata;

"sip ya mama, minta berapa ka"?. Dengan senyum, anak-anak para pendata sensus penduduk mengoda mama.


Mama sambil berlalu ke dapur, mengambil sapu hijau. Mama sambil menyapu, beliau menasihati anak-anak yang membawa pendataan sensus penduduk.


Seorang ibu;

"maaf anak-anak, mama mau sapu di sini ni. Anak-anak bisa berdiri ka"?.


Pendata;

"o mari mama, silahkan sapu".

Sambil berdiri dengan buru-buru, mereka mengambil barang dengan tergesa-gesa. Mereka bertanya lagi sama mama.


Pendata;

"baru mama, pendataan sensus penduduk ini, bagaimana, isi ka tidak"!.


Mama sambil meneteskan air mata, ia melihat anak-anak dengan sedih. Ia menyeka air mata dengan kain lengso biru.


Pendata;

"Ada apa ma, mama kenapa menagis".

Mereka menatap mama dengan bingung.


Seorang ibu;

"anak-anak, ini apa"?.


Pendata;

"kain lengso ma".

Dengan serentak


Seorang ibu;

"ia benar anak-anak, kain ini sangat berarti bagi saya. Apakah anak-anak mau dengar cerita".

Pendata;

"Mau dengar ma".

... dengan serentak....

Karena mama dengan serius mengungkapkannya, maka anak-anak pendata sespen mengiakannya.


Seorang ibu;

" Waktu mama masih kuat, rumah kami di datangi panitia Pepera. Waktu itu saya ada di halaman rumah, sedangkan Bapak ada di belakang rumah, membela kayu.

"Selamat pagi ibu", Kata mereka. "Ya selamat pagi", kataku. "Di mana suami ibu", kata mereka. "Ada di belakang rumah, sedang membela kayu,  menjawabku dengan gugup. "Tolong cepat panggil suami ibu", Mereka menyuruhku. Saya berjalan dengan cepat dan memanggil suamiku. "Pa ada tamu", dengan tergesa-gesa saya dengan suami saya ke depan rumah. Suami saya memakai kaos baju oblong. "Selamat pagi bapa bapa, mari Bapa bapa masuk dalam rumah dulu", Kata suamiku. "Tidak perlu pa. Pa sekarang harus ikut kami untuk memenangkan Pepera di dalam bingkai NKRI...Pa harus ikut kami". Mereka memaksa suamiku. Dan mengatakan bahwa; "kamu akan di beri Supermi, beras senter, dan radio. Bagaimana menurut bapak", Kata mereka.

Karena mereka memaksa dengan tidak sopan, maka bapak menolak tawaran mereka. "Bapak-bapak silahkan pergi, saya tidak akan ikut. Dan tawaran Bama oleh bapa-bapa, saya tidak ambil juga". Bapak-bapak pergi dengan kesal, sambil gumam; "dasar binatang jelek, tunggu. Kau pikir, kau siapa. Kami lapor ke bayonet dulu supaya kau tau rasa". Saya sempat mendengar perkataan mereka, karena saya datang dari arah berlawanan. Saya tidak mengerti apa itu bayonet. Saya pikir bayonet itu boneka yang akan mereka bawa.


Saat itu saya pikir sudah aman. Jadi saya sampaikan kepada suami saya. "Saya ke hutan dulu, mengambil togokan sagu". Suami saya mengiyakan, sambil membela kayu bakar. Saya ke hutan sagu, ke pondok mengambil sagu. Dalam perjalanan pulang, saya mendengar rentetan tembakan. Semua ibu-ibu dan anak-anak lari berhamburan, ada yang lari ke hutan. Dan ada seorang ibu yang lari ke hutan menuju saya. Ia memeluk saya sambil menangis. "Bapa... Bapa...bapa...ma bapa di rumah". Ada apa dengan bapa. Saya balik tanya. Bapa di di tembak. Saya langsung pingsan. Beberapa jam kemudian baru saya bangun, saya berdiri dan lari ke rumah. Rumah saya di bakar, suami saya di tembak oleh bayonet yang sebelumnya saya kira bayonet itu boneka. Suami saya sambil menghembuskan nafas terakhirnya, ia berpesan. "Ambillah lengso ini, bila kau ingat saya, kebaskan lengso ini ke udara. Ingat, suatu saat bayonet-bayonet itu akan datang ke rumah, dengan tawaran yang sama. Bilamana bayonet-bayonet datang dengan tawaran yang sama, kebaskanlah lengso ini ke hadapan mereka. Maka janjimu tergenapi". Sekarang janji ini tergenapi, dan yang menggenapinya anak-anak, kalian ini".


Seorang ibu;

"Terimakasih anak-anak, karena anak-anak telah mengenapinya. Akhirnya tergenapi juga, setelah sekian lama saya menunggu untuk membebaskan janji saya kepada suami saya yang sudah almarhuma. Hanya demi pendataan penduduk untuk Pepera saja, suami saya di tembak mati".


Mama cerita panjang lebar, sehingga membuat mereka takut dan gementar, karena cerita mama ini. Mereka sudah tidak berkutik lagi, mereka diam mem.


Seorang ibu;

"Apakah anak-anak juga begitu, lapor ke bayonet-bayonet untuk menangkap mama".

Mama sambil bergurau, dan tertawa senyum kepada anak-anak pendata sespen. Mama sambil mengajak makan pinang.


Seorang ibu;

"Sudah, anak-anak makan pinang dulu. Jangan ambil hati, cerita mama tadi".

Mereka mengambil pinang dengan takut, dan mereka merasa malu. Badan mereka dingin, sedingin salju Trikora.


Pendata;

"Mama kita pamit dulu".


Seorang ibu;

"Baru, mama isi pendataan ka, tidak"?.


Pendata;

"Ah mama, kami minta maaf, kami tidak tahu keadaan mama seperti begini jadi kami datang".


Seorang ibu;

"Bagaimana pendataan ini".

Mama balik tanya.


Pendata;

"Lain kali ma".

Mereka membalas sambil berlalu, terburu-buru mereka berjalan.


By Anak Jalan 

Pembaca Situwasi 

Palangka Raya 18 September 2020


Posting Komentar

0 Komentar