Saat-saat ini Indonesia kehabisan akal sehat untuk merendamkan situasi Papua karena seluru Rakyat Papua hari ini menolak otonomi kusus dan meminta Referendum sehingga Negara Kesatua Republik Indonesia memulai melakukan tipu dayanya dengan cara mencantumkan simbol-simbol Papua kedalam Negara Kesatuan Republik Indonesia tanpa melibatkan orang Papua, kita bisah lihat dari dua pengalaman yang sudah kita alami.
1. Seperti PEPERA pada tanggal 14 Juli 1969, Pepera dimulai dengan 175 anggota dewan musyawarah untuk Merauke. Dalam kesempatan itu, juga ditentukan oleh pejabat Indonesia. Pelaksanaannya pun dijaga ketat oleh militer dan polisi Indonesia bahkan kelompok besar tentara Indonesia hadir dan memaksa papua masuk kedalam Indonesia.
2. Menerima Otonomi kusus dan disahkan Otonomi kusus pada tanggal 21 November 2001 itu tanpa melibatkan rakyat papua.
Dan hari ini senin 17 Agustus 2020, jam 07,51 WIB di resmikan mata uang baru Rp 75.000 dan di dalam uang itu ada gambar jembatan merah Youtefa yang baru saja dikeluarkan Pemerintah Indonesia melalui Bank Indonesia (BI) sebagai uang spesial perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-75. Namun itu semuanya tanpa pemberitahuan atau libatkan orang Papua untuk mencantumkan jambatan merah Youtefa kedalam uang baru Rp 75.000, namun Negara tibah-tibah sahkan mata uang baru dan dikeluarkan sebagai mata uang baru di Indonesia, ini tandanya Negara mengupayakan untuk meredamkan situasi Papua saat ini karena hari ini seluruh Rakyat Papua menolak Otsus jilid II dan meminta Referendum sehingga Negara dengan tipu dayanya memaksa bangsa Papua bertahan bersama Indonesia.
Maka itu hari ini saya sampaikan kepada seluruh rakyat Papua bahwasannya kita jangan jatu di lubang yang sama dan kita jangan tertipu dengan kelicikan Negara yang memberikan gula-gula palsu, kita harus belajar dari dua pengalaman yang sedang kita alami saat Ini, yaitu pepera dan otsus sehingga kita jangan tertipu dengan adanya uang baru Rp 75.000 di cantumkan di dalam uang baru ada gambar jambatan merah Youtefa, itu hanya mengalikan isu penolakan Otsus oleh sebab itu di harapkan kepada seluru rakyat papua untuk tetap fokus penolakan otsus jilit II dan meminta Referendum.
Salam Satu Jiwa
Papua Merdeka
Palangka Raya 19 Agustus 2020, 21:50 WIB
By kaki abu

0 Komentar